4 Kesalahan Marketing Online yang Membuat Iklan Tidak Efektif

4 Kesalahan Marketing Online yang Membuat Iklan Tidak Efektif

Di era digital sekarang, banyak bisnis sudah sadar bahwa kehadiran online itu penting, pakai banget!

Mulai dari bikin akun media sosial, pasang iklan, sampai membuat website.

Tapi, ada satu kenyataan yang sering bikin frustasi. Iklan sudah jalan, budget sudah keluar, tapi hasilnya tidak sebanding. “Boncos” kalau kata orang-orang.

Akhirnya muncul pertanyaan klasik, “Salahnya di mana, ya?”

Sebetulnya, masalahnya bukan pada platform iklan saja. Bukan semata-mata salah di algoritma. Sering kali, kesalahan ada pada strategi marketing onlinenya sendiri.

Berikut 4 kesalahan umum yang tanpa disadari membuat iklan tidak efektif. Pernah mengalami salah satunya?

1. Tidak Kenal Target Audiens dengan Jelas

Banyak bisnis berangkat dari kalimat, “Pokoknya semua orang bisa pakai produk ini.”

Sekilas terdengar bagus, sih. Namun di dunia marketing online, itu justru masalah.

Platform iklan seperti Facebook Ads, Google Ads, atau TikTok Ads bekerja berdasarkan relevansi. Kalau targetnya terlalu luas, pesan iklan jadi “ngambang” dan tidak terasa personal.

Contoh sederhana, kamu menjual produk skincare. Target “wanita usia 18–45 tahun” itu masih terlalu umum.

Akan jauh lebih kuat jika dipersempit. Misalnya, wanita usia 20–30 tahun, tinggal di kota besar, aktif bekerja, serta punya masalah kulit kusam karena sering di luar ruangan.

Begitu target makin jelas, bahasa iklan pun bisa dibuat lebih spesifik.

Audiens merasa “ini gue banget”, bukan sekadar lewat di timeline. Inilah yang sering hilang, yakni memahami siapa yang sebenarnya ingin kita ajak bicara.

2. Hanya Fokus pada Produk, Lupa Masalah Pelanggan

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah iklan terlalu sibuk memamerkan fitur produk, tetapi lupa menjawab satu hal, “Kenapa aku harus peduli?”

Banyak iklan berbunyi seperti ini:

  1. Bahan premium,
  2. Kualitas terbaik,
  3. Teknologi terbaru,
  4. Harga terjangkau.

Semua terdengar bagus, tetapi tidak menyentuh sisi emosional pelanggan.

Orang membeli bukan hanya karena fitur, tapi karena produk itu menjawab masalah mereka.

Coba bandingkan dua kalimat berikut:

  1. “Kursi ergonomis dengan bahan berkualitas tinggi.”
  2. “Sudah capek kerja seharian tapi punggung malah sakit? Kursi ini dirancang khusus supaya duduk lama tetap nyaman.”

Kalimat kedua terasa lebih manusiawi, karena menyentuh pengalaman sehari-hari.

Di sinilah kekuatan marketing online sebenarnya. Kamu wajib memahami rasa lelah, keinginan, dan kecemasan calon pelanggan.

3. Landing Page Tidak Meyakinkan

Iklan boleh bagus, desain boleh keren, bahkan copywriting bisa memikat. Tapi kalau akhirnya diarahkan ke landing page yang berantakan, performa tetap jatuh.

Ini seperti menjanjikan restoran mewah di brosur, tetapi ketika sampai di lokasi, meja kotor dan menunya tidak jelas.

Beberapa kesalahan yang sering muncul pada landing page, antara lain:

  1. Loading lambat.
  2. Terlalu banyak teks, tanpa struktur yang rapi.
  3. Tidak ada testimoni atau bukti sosial.
  4. Tombol CTA kecil dan tidak jelas.
  5. Sulit diakses melalui smartphone.

Padahal, sebagian besar pengguna sekarang datang dari ponsel.

Jadi, landing page harus tampil sederhana, cepat, serta mudah dipahami dalam beberapa detik pertama.

4. Tidak Evaluasi, Hanya Mengandalkan Feeling

Kesalahan terakhir ini yang paling sering dilakukan. Iklan dibiarkan jalan begitu saja tanpa dianalisis.

Anggaran habis, tapi tidak tahu bagian mana yang sebenarnya bekerja dan mana yang tidak.

Padahal, marketing online justru unggul karena semuanya bisa diukur:

Mulai dari berapa orang yang melihat iklan, jumlah klik, berapa yang chat, sampai berapa yang akhirnya membeli.

Banyak pebisnis masih mengandalkan perasaan. Contohnya:

  1. “Kayaknya iklan ini sudah bagus.”
  2. “Sepertinya audiensnya cocok.”
  3. “Sepertinya captionnya sudah jualan banget.”

Padahal yang dibutuhkan bukan “sepertinya”, tapi data.

Dengan melihat metrik, kita bisa tahu apakah masalah ada di visual iklan, copywriting, target audiens, atau malah di landing page.

Evaluasi ini yang membedakan antara “pasang iklan” dan “beriklan secara strategis”.

Marketing Online Butuh Strategi

Empat kesalahan di atas sebetulnya wajar, karena banyak pelaku bisnis belajar marketing secara otodidak. Yang penting, jangan berhenti di titik “iklan gagal”.

Justru dari situ kita bisa belajar membuat strategi yang lebih matang.

Jika ingin membaca artikel lain seputar bisnis, marketing, strategi penjualan, hingga pengembangan usaha, kamu bisa menemukan banyak insight bermanfaat di terryruddysales.com.

Kami terus menghadirkan pembahasan yang ringan, praktis, dan relevan untuk dunia bisnis saat ini.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *