Ketika sebuah bisnis tidak jalan, banyak orang langsung menyalahkan iklan, konten media sosial, atau tim marketing.
Padahal sering kali akar masalahnya bukan di sana, melainkan lebih dalam. Salah satunya, produk atau layanan tersebut sebenarnya tidak punya value proposition yang jelas.
Konsumen bingung, “Sebenarnya apa sih manfaat produk ini buat Aku?”
Ketika orang sudah bingung, mereka biasanya memilih untuk tidak membeli.
Value proposition bisa dibilang sebagai “janji nilai” yang ditawarkan bisnis kepada pelanggannya. Bukan sekadar fitur atau harga murah, melainkan alasan kuat kenapa seseorang harus memilih produk Kamu dibandingkan yang lain.
Berikut ini 5 hal penting tentang value proposition yang perlu diketahui setiap pebisnis. Check it out!
1. Bukan Keunikan Produk, tetapi Nilai
Banyak pemilik bisnis terjebak pada pikiran, “Produk Aku unik, berarti value proposition-nya sudah bagus.”
Nyatanya, tidak selalu begitu.
Sebuah fitur bisa terlihat keren menurut pemilik usaha, namun tidak terasa penting bagi pelanggan.
Kuncinya di sini adalah sudut pandang. Value proposition bukan tentang apa yang menurut Kamu hebat, melainkan apa yang dirasakan bermanfaat oleh pelanggan.
Contohnya, kamera HP dengan 200 MP mungkin terdengar mengagumkan. Hanya saja bagi sebagian pengguna, yang lebih penting justru baterai awet atau memori besar.
Nilai selalu ada di mata pelanggan, bukan di brosur produk.
Maka sebelum merumuskan value proposition, tanyakan hal sederhana, “Masalah apa yang benar-benar mereka hadapi, dan bagaimana produk Aku membantu menyelesaikannya?”
2. Sederhana, Jelas, dan Mudah Dipahami
Banyak brand besar bisa menjelaskan value proposition mereka hanya dalam satu kalimat.
Itu bukan kebetulan. Di baliknya ada perumusan yang matang. Pelanggan tidak punya waktu membaca paragraf panjang hanya untuk memahami manfaat produk Anda.
Jika Kamu membutuhkan satu halaman penuh untuk menjelaskan “mengapa orang harus membeli”, itu tanda value proposition belum tajam.
Contoh yang sederhana:
- “Makan enak tanpa ribet, tinggal pesan.”
- “Belajar dari mana saja, kapan saja.”
- “Kurir cepat sampai hari ini.”
Kalimatnya pendek, tapi langsung “mengena”. Ia menjawab kebutuhan spesifik pelanggan tanpa bertele-tele. Paham, ya?
3. Tidak Selalu Tentang Harga Murah
Banyak UMKM berpikir bahwa nilai berarti lebih murah dari kompetitor.
Akibatnya mereka terus banting harga, margin makin tipis, dan usaha jadi sulit berkembang. Padahal value proposition tidak selalu berhubungan dengan harga.
Nilai bisa datang dari banyak sisi. Di antaranya, kemudahan (lebih praktis digunakan), kecepatan layanan, kualitas bahan, pengalaman pengguna yang lebih nyaman, hingga after sales yang responsif.
Orang rela membayar lebih mahal jika merasa mendapatkan nilai yang lebih besar.
Buktinya gampang, kok. Ada kopi yang harganya belasan ribu dan ada yang puluhan ribu. Namun, dua-duanya tetap punya pembeli. Bedanya ada di value proposition yang ditawarkan.
4. Sesuai Target Pasar, Tidak Bisa untuk “Semua Orang”
Kesalahan yang juga sering terjadi ialah ingin menjual ke semua orang. Ini, sih mustahil!
Semakin luas target pasar, semakin kabur value proposition-nya. Produk yang “untuk semua orang” biasanya berakhir tidak benar-benar cocok untuk siapa pun.
Value proposition yang kuat selalu spesifik untuk siapa, menyelesaikan masalah apa, dan dengan cara bagaimana.
Misalnya, makanan sehat untuk ibu bekerja yang tidak sempat masak, jasa desain untuk UMKM yang butuh logo cepat dan terjangkau, ataupun kelas online untuk pemula yang baru belajar investasi.
Dengan target yang jelas, pesan bisnis menjadi lebih fokus.
Iklan pun lebih terarah, konten lebih nyambung, dan pelanggan merasa, “Ini produk yang memang dibuat untuk Aku.”
5. Konsisten dengan Pengalaman Nyata Pelanggan
Janji boleh indah, tetapi pengalaman pelangganlah yang menentukan apakah value proposition benar-benar hidup atau hanya slogan.
Jika brand menjanjikan “pengiriman cepat”, tetapi kenyataannya sering telat, maka value proposition tersebut tidak valid.
Di sinilah banyak bisnis tumbang. Iklannya menjanjikan langit, pelayanannya malah memberi kenyataan yang berbeda. Aduh!
Value proposition yang kuat harus tercermin dalam kualitas produk, respons customer service, kecepatan pengiriman, maupun kemudahan proses transaksi.
Ketika janji selaras dengan pengalaman, muncullah kepercayaan.
Dari kepercayaan, lahir repeat order dan rekomendasi dari mulut ke mulut.
Kenapa Orang Harus Membeli dari Anda?
Value proposition bukan teori rumit, melainkan pondasi yang menentukan apakah bisnis Kamu hanya “ikut ramai” atau benar-benar dipilih pelanggan.
Ia menjawab satu pertanyaan paling penting dalam dunia usaha, “Kenapa orang harus membeli dari Anda, bukan dari yang lain?”
Kalau Kamu sedang membangun bisnis, memperbaiki penjualan, atau merancang strategi marketing, mulailah dari sini. Perjelas nilai yang Kamu tawarkan.
Ketika value proposition kuat, semua hal lain seperti branding, konten, dan iklan akan lebih mudah mengikuti.
Ingin belajar lebih banyak seputar bisnis, marketing, strategi penjualan, dan pengembangan usaha?
Anda bisa menemukan berbagai artikel bermanfaat lainnya di terryruddysales.com.
Semoga artikel ini membantu, dan semoga bisnis Kamu tumbuh dengan nilai yang benar-benar dirasakan pelanggan.

