4 Cara Menentukan Harga Jual Produk UMKM dengan Benar, Jangan Salah Lagi!

4 Cara Menentukan Harga Jual Produk UMKM dengan Benar, Jangan Salah Lagi!

Kalau ada satu hal yang paling sering bikin pelaku UMKM bingung, itu soal harga. Bukan karena tidak mau untung, tapi justru takut salah langkah.

Antara takut kemahalan, khawatir dibilang mahal, dan pastinya takut tidak laku.

Banyak yang akhirnya pasang harga sambil ragu. Bahkan ada yang menurunkan harga setiap kali ada pembeli menawar, tanpa benar-benar tahu batas amannya di mana.

Mungkin kamu juga sering melihat UMKM yang produknya bagus, tapi pemiliknya kelelahan sendiri. Pesanan sih ramai, cuma uangnya seperti lewat begitu saja.

Setelah ditelusuri, masalahnya bukan di produk atau pemasaran. Masalahnya ada di harga.

Bagaimana ya menentukan harga yang pas buat produk kita? Berikut 4 cara yang bisa kamu coba!

1. Detailkan Dulu Setiap Biaya

Sebagian orang merasa sudah menghitung biaya. Tapi kalau ditanya lebih detail, hitungannya sering kali belum lengkap.

Bahan baku dicatat. Itu bagus!

Kemasan? Kadang lupa. Listrik, gas, air? Dianggap kecil. Waktu dan tenaga sendiri? Hampir selalu tidak dihitung.

Padahal, kalau usaha ini menyita waktu setiap hari, wajar dong kalau ada “upah” untuk diri sendiri. Bila tidak dihitung dari awal, harga jual pasti terlalu rendah tanpa disadari.

Harga yang benar tidak lahir dari kira-kira, tapi dari kejujuran menghitung semua pengeluaran, sekecil apa pun itu.

2. Jangan Buta Gara-Gara Melihat Kompetitor

Banyak UMKM langsung membuka marketplace, lalu melihat harga paling murah. Setelah itu, muncul satu kesimpulan cepat, “Saya harus di bawah ini!”

Masalahnya, kita tidak pernah benar-benar tahu kondisi usaha kompetitor. Bisa jadi mereka punya modal besar. Mungkin juga mereka belum memikirkan untung jangka panjang.

Daripada fokus ke angka, coba perhatikan hal lain. Apakah kualitas produknya sama? Benarkah porsinya setara? Bagaimana pelayanannya?

Kalau produk kamu lebih rapi, lebih konsisten, atau lebih nyaman dipakai, harga sedikit lebih tinggi itu bukan dosa.

Konsumen tidak selalu mencari yang termurah, kok. Banyak yang mencari mana produk atau layanan yang lebih bikin tenang.

3. Cocok dengan Pembeli, Bukan Perasaan Sendiri

Ini sering terjadi tanpa disadari. Pemilik usaha merasa harga tertentu itu “kemahalan”, lalu langsung menganggap konsumen juga akan berpikir sama.

Padahal, belum tentu, kok!

Orang yang menyasar pasar mahasiswa tentu berbeda dengan yang menyasar karyawan atau keluarga. Cara mereka memandang harga sangat berbeda. Yang satu sensitif di selisih kecil, yang lain lebih fokus ke manfaat dan kepraktisan.

Harga yang tepat selalu berkaitan dengan siapa yang membeli, bukan siapa yang menjual.

4. Kalau Tidak Ada Untung, itu Bukan Bisnis

Banyak UMKM merasa sudah cukup kalau modal kembali. Asal usaha jalan atau yang penting ada pesanan. Tapi kondisi ini tidak bisa bertahan lama.

Tanpa keuntungan, tidak ada ruang untuk kesalahan. Tentunya tidak ada cadangan kalau harga bahan naik dan tidak ada dana untuk berkembang.

Untung bukan berarti serakah. Laba atau keuntungan adalah napas bisnis. Tanpanya, usaha hanya akan berjalan sebentar lalu berhenti pelan-pelan.

Kalau mau mendirikan yayasan sih, boleh saja tidak mengambil untung.

Harga Membentuk Persepsi

Ada satu hal lagi yang sering dilupakan, harga itu juga bisa jadi pesan.

Harga terlalu murah bisa membuat produk terlihat tidak bernilai. Sebaliknya, harga tinggi tanpa alasan jelas juga akan membuat orang menjauh.

Bagaimanapun, harga yang sehat adalah harga yang bisa kamu jelaskan dengan tenang. Kamu tahu kenapa angkanya seperti itu sekaligus tidak gugup saat menyebutkannya.

Kalau penjualnya yakin, pembeli biasanya lebih mudah percaya. Ya, kan?

Menentukan harga jual memang tidak instan. Ia perlu dicoba, dievaluasi, lalu disesuaikan.

Tapi satu hal yang wajib diingat, harga yang salah akan melelahkan pelaku usaha lebih cepat daripada sepinya pembeli.

Dengan memahami biaya, target pasar, dan tujuan usaha, harga bisa menjadi alat untuk menolong bisnis tumbuh. Bukan cuma bertahan day-to-day.

Suka membaca pembahasan bisnis dan UMKM dengan sudut pandang yang lebih realistis dan membumi?

Kamu bisa menemukan banyak artikel relevan lainnya di terryruddysales.com. Di sini, bisnis tidak dibahas sebagai teori, tapi proses yang benar-benar dijalani.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *